08 January 2026

Masih Malas Pakai Sunscreen Saat Mendung atau di Rumah? Ini Bahayanya Menurut Dermatolog!

Pernahkah kamu berpikir, "Ah, hari ini mendung, nggak perlu pakai sunscreen, deh," atau "Kan seharian cuma di dalam kamar main laptop, aman dong dari matahari?"

Jika pemikiran ini masih ada di benakmu, kamu tidak sendirian. Banyak dari kita merasa aman (false sense of security) saat tidak merasakan sengatan panas matahari secara langsung. Padahal, absen memakai sunscreen, meskipun hanya sehari di dalam ruangan, bisa menjadi celah bagi penuaan dini untuk datang lebih cepat.

Mengapa bisa begitu? Apakah kaca jendela, awan tebal, bahkan layar laptop tidak cukup aman bagi kulit? Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Vidyani Adinigtyas, SpDv, seorang dokter dermatolog yang akan memberikan jawaban medis yang tepat bagi kebutuhan kulitmu.

Profil Dokter :

“dr. Vidyani Adiningtyas, Sp.DV merupakan dokter yang berpraktik di Brawijaya Duren Tiga. Beliau tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).

Pendidikan Spesialis Dermatologi dan Venereologi ditempuhnya di Universitas Airlangga. Layanan yang diberikan meliputi konsultasi terkait kesehatan kulit maupun kelamin.

Apa Itu UVA dan UVB?

Sebelum kita menyalahkan kaca jendela atau awan, kita perlu berkenalan dulu dengan aktor utamanya: Radiasi Ultraviolet (UV). Banyak orang mengira sinar matahari itu satu jenis saja. Faktanya, matahari memancarkan spektrum elektromagnetik yang kompleks.

Berdasarkan tinjauan komprehensif dari National Institutes of Health (NIH), sinar UV yang mencapai permukaan bumi dibagi menjadi dua kategori utama yang memiliki karakter sangat berbeda:

1. UVB (Burning)

Sinar ini memiliki panjang gelombang pendek (290–320 nm). Energinya sangat tinggi dan merusak lapisan terluar kulit (epidermis).

  • Efek: Kulit kemerahan, perih, dan terbakar (sunburn).

  • Karakter: Untungnya, UVB tidak terlalu pandai menembus hambatan. Kaca jendela standar biasanya sudah cukup efektif memblokir sebagian besar radiasi UVB. Inilah alasan kenapa kamu jarang merasa gosong saat duduk di dalam mobil atau kamar tertutup.

2. UVA (Aging)

Inilah "musuh dalam selimut" yang sering diabaikan. Sinar UVA memiliki panjang gelombang yang lebih panjang (320–400 nm), yang terbagi lagi menjadi UVA I dan UVA II.

  • Efek: Sinar ini tidak menyebabkan rasa sakit atau panas instan. Namun, ia mampu menembus jauh lebih dalam hingga ke lapisan dermis (lapisan kedua kulit di mana kolagen dan elastin berada). Kerusakan akibat UVA bersifat kumulatif dan jangka panjang: keriput, kulit kendur, dan flek hitam (hyperpigmentation).

  • Karakter: Berbeda dengan UVB, sinar UVA memiliki daya tembus yang luar biasa kuat. Ia bisa menembus kaca jendela, awan, bahkan pakaian tipis sekalipun.

Mitos: Apakah Ketika Mendung & Di Rumah Perlu Menggunakan Sunscreen?

Mari kita bedah satu per satu mitos yang sering membuat kita terlena, berdasarkan bukti ilmiah.

Mitos 1: "Tidak Perlu Pakai Sunscreen Karena Ada Kaca Jendela Melindungiku"

Banyak yang merasa aman bekerja di dekat jendela. Faktanya, sebuah studi dalam jurnal medis Comprehensive Review of Ultraviolet Radiation menegaskan bahwa kaca jendela standar (terutama tipe clear glass) memang memblokir UVB, tetapi meloloskan radiasi UVA secara signifikan, khususnya gelombang UVA I (340-400 nm).

“ Paparan UVA kronik melalui kaca ini berkaitan dengan fenomena klinis yang dikenal sebagai unilateral dermatoheliosis, yaitu kondisi di mana satu sisi wajah tampak lebih tua, lebih keriput, dan lebih kendur dibanding sisi lainnya. 

Kondisi ini sering ditemukan pada pengemudi atau pekerja kantor yang terpapar sinar matahari dari satu arah dalam jangka panjang. Kaca memang menahan panas, tetapi tidak sepenuhnya menahan penuaannya ”

Mitos 2: "Awan Mendung Bikin Aman Kulit dan Tidak Perlu Pakai Sunscreen"

Logika bahwa “kalau gelap berarti tidak ada radiasi” adalah kesalahan yang berbahaya. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) dalam panduan Sunscreen: The Burning Facts menjelaskan bahwa awan bukanlah filter UV yang sempurna.

  • Transmisi Tinggi: Awan tipis atau berkabut masih meloloskan sebagian besar sinar UV untuk mencapai permukaan bumi.

  • Efek Pantulan (Scattering): EPA memperingatkan bahwa dalam kondisi awan yang pecah-pecah (partly cloudy), intensitas UV bisa saja lebih tinggi daripada hari cerah karena adanya pantulan dari tepi awan.

Selain itu, permukaan di sekitarmu juga memantulkan UV. Pasir memantulkan hingga 25% UV, dan jika kamu punya lantai teras berwarna terang atau air kolam di rumah, pantulannya bisa menambah paparan ke kulitmu.

Mitos 3: "Di Rumah Cuma Main Laptop, Gak Kena Matahari"

Gaya hidup modern memaksa kita menatap layar 8-10 jam sehari. Di sinilah peran Blue Light atau High-Energy Visible (HEV) Light masuk. Meskipun intensitasnya tidak sekuat matahari, jarak yang sangat dekat dan durasi paparan yang panjang membuat Blue Light berkontribusi pada stres oksidatif kulit, yang memperparah masalah pigmentasi seperti melasma.

Karena itu, literatur dermatologi dan pedoman medis tetap merekomendasikan penggunaan sunscreen secara rutin setiap hari, terlepas dari cuaca cerah atau mendung, sebagai bagian dari strategi perlindungan kulit jangka panjang terhadap UVA, UVB, dan paparan cahaya lingkungan secara keseluruhan. 

Tips Memilih Sunscreen yang Tepat untuk "Kaum Indoor"

Sekarang kamu sudah tahu faktanya: Sunscreen di rumah itu wajib. Tapi, sunscreen seperti apa yang harus dipilih? Karena tidak berkeringat dan tidak terkena terik langsung, strateginya tentu sedikit berbeda dengan saat kamu pergi ke pantai.

1. Wajib Ada Tulisan "Broad Spectrum" atau PA++++

Ini poin non-negosiasi. Mengingat ancaman utama di dalam ruangan adalah UVA (yang menembus kaca), kamu butuh perlindungan PA (Protection Grade of UVA).

  • SPF (Sun Protection Factor): Melindungi dari UVB (cegah gosong). Di rumah, SPF 30-50 sudah cukup.

  • PA (Protection Grade of UVA): Melindungi dari UVA (cegah tua). Cari yang PA+++ atau PA++++ untuk perlindungan maksimal terhadap photoaging.

  • Broad Spectrum: Istilah ini menjamin produk tersebut seimbang dalam menahan kedua jenis sinar. EPA sangat menyarankan penggunaan produk Broad Spectrum dengan SPF minimal 15 (atau lebih tinggi) untuk efektivitas nyata.

2. Pertimbangkan Kandungan Antioksidan & Skincare

Karena kamu pakai di rumah, pilihlah sunscreen yang "rasanya" seperti skincare. Produk dengan tambahan Hyaluronic Acid, Glycerin, atau Antioksidan (Vitamin C/E) sangat bagus untuk menetralkan radikal bebas akibat Blue Light gadget sekaligus menjaga kelembapan kulit di ruangan ber-AC.

3. Tekstur adalah Kunci Konsistensi

Alasan utama orang malas pakai sunscreen di rumah adalah "lengket". Pilihlah tekstur:

  • Gel / Watery Essence: Cepat meresap, ringan, tidak bikin wajah berminyak. Cocok untuk kulit berminyak/kombinasi.

  • Lotion / Milk: Lebih melembapkan, cocok untuk kulit kering yang sering terpapar AC.

Cara Pakai Sunscreen Menurut Dermatologist 

Memiliki produk sunscreen terbaik tidak akan berguna jika cara pakainya salah. Berikut panduan praktis agar manfaat memakai sunscreen di rumah benar-benar terasa:

  • Takaran Medis (2mg/cm²): Gunakan metode dua ruas jari penuh (jari telunjuk dan tengah) untuk menutupi seluruh area wajah dan leher. Lapisan sunscreen yang terlalu tipis dapat membuat perlindungan SPF turun secara signifikan atau drastis dibandingkan nilai yang tertera pada kemasan. 

  • Reapply Sunscreen: Ini yang paling sering dilupakan. "Kan nggak keringetan, kok harus reapply?" Minyak alami wajah (sebum) yang keluar setiap jam akan melunturkan lapisan filamen sunscreen. Selain itu, bahan aktif kimia dalam sunscreen bisa terdegradasi setelah menyerap UV. Rekomendasi dermatologist menyarankan aplikasi ulang setidaknya setiap 2 jam. Jika kamu merasa ribet harus cuci muka, gunakan Sunscreen Spray atau Bedak Tabur ber-SPF untuk touch-up praktis.

  • Area yang Terlupakan: Jangan lupa oleskan di telinga, leher belakang, dan punggung tangan (terutama jika meja kerjamu dekat jendela). Punggung tangan adalah area pertama yang sering menunjukkan tanda penuaan (bintik penuaan/lentigo).

Kesimpulan

Berada di dalam ruangan yang nyaman atau di bawah langit yang mendung hanyalah ilusi keamanan semata. Fakta sains membuktikan bahwa radiasi UVA memiliki kemampuan menembus kaca jendela , dan awan mendung masih meloloskan radiasi UV. Mulai hari ini, ubah mindset-mu. Pakai sunscreen bukan karena "mau pergi", tapi karena "mau sehat". Jadikan sunscreen sebagai baju pelindung yang wajib dipakai kulitmu setiap pagi, entah kamu akan menaklukkan dunia di luar sana, atau sekadar menyelesaikan deadline di meja kamar.

Kulitmu di masa depan akan berterima kasih atas kedisiplinanmu hari ini!