08 January 2026

UVA vs UVB: Sinar Mana yang Paling Berbahaya? (artikel ditinjau dokter)

Setiap kali membeli sunscreen, kita sering melihat tulisan UVA dan UVB bersandingan. Tapi jujur saja, pernahkah kamu bertanya-tanya: di antara keduanya, mana sih yang paling bahaya?

Apakah sinar yang membuat kulitmu merah dan gosong seketika? Atau justru sinar yang tidak terasa panas, tapi diam-diam menembus kaca dan merusak kolagen kulitmu dari dalam? Banyak dari kita hanya fokus menghindari kulit gosong, padahal ada bahaya 'tak kasat mata' yang justru lebih mengancam investasi awet mudamu.

Supaya tidak salah strategi dalam melindungi kulit, yuk kita cek fakta medisnya langsung bersama dr. Rahma Evasari Lubis, SpDVE, FINSDV untuk menentukan sinar mana yang paling harus kamu waspadai.

Profil Dokter :

dr. Rahma Evasari Lubis, SpDVE, FINSDV adalah seorang dokter spesialis kulit dan kelamin yang praktik di Klinik ZAP Premiere, RSIA Tambak, dan Aesthica Clinic. Beliau dapat memberikan layanan konsultasi kesehatan kulit dan kelamin.

dr. Eva, telah menamatkan pendidikan kedokteran umum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude (2011) dan pendidikan Spesialisnya di Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude (2018). Selain itu, beliau juga tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Perbedaan UVA dan UVB

Untuk melindungi kulit dengan tepat, kita perlu mengenal dulu apa yang sebenarnya kita hadapi. Berdasarkan tinjauan literatur dalam jurnal dari International Journal of Cosmetic Science, sinar UV yang mencapai permukaan bumi dibagi menjadi dua kategori utama. Pembeda utamanya adalah panjang gelombang, yang menentukan seberapa jauh sinar tersebut bisa masuk ke dalam lapisan kulit kita.

1. UVB (Burning

Sinar UVB adalah jenis sinar yang dampaknya paling mudah kita kenali secara visual.

  • Target Area: Sinar ini memiliki jangkauan yang lebih pendek, sehingga penyerapannya terkonsentrasi pada lapisan terluar kulit kita, yaitu Epidermis. Lapisan ini adalah tempat di mana sel-sel kulit baru diproduksi dan pigmen warna kulit berada.

  • Apa yang Terjadi pada Kulit? Karena energinya yang cukup kuat di permukaan, UVB merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak melanin (zat warna kulit) sebagai bentuk perlindungan alami. Inilah yang menyebabkan kulit menjadi lebih gelap atau belang setelah berpanas-panasan. Jika paparannya berlebihan, UVB akan memicu reaksi peradangan yang kita kenal sebagai sunburn, ditandai dengan kulit yang memerah, terasa perih, dan panas saat disentuh.

  • Kapan Harus Waspada? Intensitas UVB sangat bergantung pada waktu. Sinar ini paling kuat saat matahari berada tepat di atas kepala, sekitar pukul 10.00 hingga 14.00 siang. Kabar baiknya, sinar ini sulit menembus kaca, sehingga kamu relatif aman dari risiko terbakar saat berada di dalam ruangan tertutup.

2. UVA (Aging

Berbeda dengan UVB yang memberikan tanda peringatan berupa rasa perih, sinar UVA bekerja lebih halus dan seringkali luput dari perhatian.

  • Target Area: Sinar ini memiliki gelombang yang lebih panjang, memungkinkannya menembus lapisan epidermis dan masuk lebih dalam hingga ke lapisan Dermis. Dermis adalah lapisan penopang kulit di mana terdapat serat kolagen dan elastin yang berfungsi menjaga kulit tetap kencang dan kenyal.

  • Apa yang Terjadi pada Kulit? Saat mencapai lapisan dermis, UVA dapat memicu pembentukan stres oksidatif. Secara sederhana, proses ini perlahan-lahan melemahkan serat kolagen dan elastin yang menopang kulit. Akibatnya, kulit kehilangan kelenturannya. Dalam jangka panjang, hal ini memicu apa yang disebut photoaging, yaitu penuaan dini akibat cahaya yang ditandai dengan munculnya garis-garis halus, kerutan, tekstur kulit yang kasar, serta noda hitam atau flek.

  • Kapan Harus Waspada? Inilah yang perlu dicatat: UVA hadir dengan intensitas yang stabil sepanjang hari, dari matahari terbit hingga terbenam. Sinar ini menyumbang sekitar 95% dari total radiasi UV yang sampai ke bumi. Lebih penting lagi, UVA memiliki kemampuan menembus awan dan kaca jendela. Jadi, meskipun cuaca mendung atau kamu berada di dalam mobil, kulitmu tetap terpapar oleh sinar ini.

Perbedaan Cara Kerja: Yang Terlihat vs Yang Terasa

Agar lebih mudah dipahami, kita bisa membedakan kedua sinar ini berdasarkan efek yang ditimbulkannya pada kulit kita sehari-hari:

  • UVB memberikan efek instan dan terlihat. 

Kamu akan langsung tahu jika terlalu lama terkena sinar ini karena kulitmu memberikan sinyal rasa sakit, perih, atau perubahan warna yang drastis (kemerahan/gosong) dalam waktu singkat. Ini adalah cara tubuh memberitahu bahwa kulit bagian luar sedang mengalami tekanan.

  • UVA memberikan efek jangka panjang yang tidak terasa. 

Paparan sinar ini tidak menimbulkan rasa sakit ataupun panas di kulit. Kamu bisa duduk di dekat jendela seharian terkena sinar UVA tanpa merasa terganggu. Namun, efeknya bersifat akumulatif atau menumpuk. Kerusakan yang terjadi hari ini mungkin baru akan terlihat hasilnya beberapa tahun kemudian dalam bentuk penurunan kualitas kulit, seperti kulit yang kendur atau munculnya flek yang sulit hilang.

Inilah sebabnya mengapa perlindungan terhadap UVA sering disebut sebagai investasi. Kita melindunginya hari ini untuk menikmati hasilnya di masa depan.

Mengapa Kita Perlu Melindungi Diri dari UVA dan UVB?

Seringkali muncul pertanyaan, "Mana yang lebih prioritas untuk saya hindari?" Jawabannya adalah: Keduanya sama pentingnya untuk tujuan yang berbeda.

Secara medis, kita harus bijak dalam beraktivitas di bawah sinar matahari karena radiasi UV spektrum luas (UVA dan UVB) dapat mempengaruhi kesehatan sel kulit secara menyeluruh.

  1. Untuk Kenyamanan Hari Ini (Perlindungan UVB): Melindungi kulit dari UVB sangat penting agar aktivitas harianmu tidak terganggu. Kulit yang terhindar dari iritasi atau sunburn akan terasa lebih nyaman, sehat, dan tidak mengelupas. Ini membuatmu bisa bebas beraktivitas di luar ruangan tanpa khawatir kulit menjadi perih.

  2. Untuk Kesehatan Masa Depan (Perlindungan UVA): Melindungi kulit dari UVA adalah bentuk perawatan preventif. Karena sinar ini tidak memberikan rasa sakit, kedisiplinan adalah kuncinya. Perlindungan UVA yang konsisten membantu menjaga struktur kulit tetap kokoh dan meminimalkan risiko munculnya tanda-tanda penuaan dini yang sebenarnya bisa diperlambat.

Studi juga mendukung bahwa penggunaan pelindung matahari yang tepat adalah langkah efektif dan sederhana untuk meminimalkan dampak lingkungan terhadap kesehatan kulit manusia. Jadi, menggunakan sunscreen adalah bentuk kepedulian kita terhadap kesehatan diri sendiri.

Tips Dermatologist Untuk Merawat Kulit dengan Cerdas dan Efektif 

Kabar baiknya, melindungi kulit dari UVA dan UVB bukanlah hal yang rumit. Berikut adalah panduan memilih dan menggunakan sunscreen agar perawatan kulitmu memberikan hasil terbaik:

1. Pilih Produk dengan Label "Broad Spectrum"

Saat memilih sunscreen, jangan hanya tergoda dengan angka SPF yang tinggi. Pastikan kamu melihat tulisan Broad Spectrum atau perlindungan ganda pada kemasannya.

  • SPF (Sun Protection Factor): Angka ini fokus pada perlindungan terhadap UVB (penyebab kulit terbakar). Untuk iklim tropis seperti Indonesia, SPF 30 hingga 50 sudah sangat cukup untuk penggunaan harian.

  • PA (Protection Grade of UVA): Perhatikan tanda plus (+) di belakang tulisan PA. Sistem penilaian ini menunjukkan tingkat perlindungan terhadap UVA (penyebab penuaan dini). Semakin banyak tanda plus (misalnya PA++++), semakin optimal perlindungannya dalam menjaga kulitmu.

2. Gunakan Takaran yang Tepat

Agar sunscreen bekerja efektif, pastikan kamu menggunakannya dalam jumlah yang cukup. Seringkali kita merasa sunscreen tidak bekerja maksimal padahal kita menggunakannya terlalu tipis. 

Takaran yang disarankan secara umum adalah sekitar dua ruas jari penuh (jari telunjuk dan tengah) untuk diaplikasikan merata ke seluruh area wajah dan leher. Ini memastikan seluruh permukaan kulitmu tertutup rapat oleh lapisan pelindung.

3. Jadikan "Reapply" Kebiasaan Baik

Perlindungan sunscreen tidak bertahan seharian penuh secara mutlak. Lapisan pelindung ini bisa berkurang kinerjanya karena keringat, produksi minyak wajah alami, atau gesekan dengan masker maupun tangan. Untuk memastikan kulitmu terlindungi sepanjang hari, disarankan untuk mengaplikasikan ulang (reapply) setiap 2-3 jam sekali, terutama jika kamu banyak beraktivitas di luar.

  • Tips Praktis: Jika kamu sedang menggunakan makeup, kamu tidak perlu menghapusnya. Kamu bisa menggunakan sunscreen tipe spray atau bedak tabur (powder) yang mengandung SPF tinggi untuk touch-up yang praktis dan membuat wajah kembali segar.

4. Jangan Lupakan Area Lain

Wajah memang prioritas, tapi jangan lupakan area leher, telinga, dan punggung tangan. Area-area ini memiliki kulit yang cukup tipis dan sering terpapar sinar matahari secara langsung (terutama punggung tangan saat menyetir motor atau mobil), sehingga layak mendapatkan perlindungan yang sama agar warnanya tetap merata dan teksturnya halus.

Jadi, memahami perbedaan UVA dan UVB tujuannya bukan untuk membuatmu takut pada matahari, melainkan agar kamu punya strategi yang cerdas. Ingat saja rumus sederhananya: UVB menyakiti kulitmu hari ini (gosong), sementara UVA "mencuri" kemudaan kulitmu untuk masa depan (penuaan).

Jadi, jangan lagi berkompromi soal perlindungan. Pastikan "baju zirah" kulitmu adalah sunscreen Broad Spectrum yang mampu menangkal keduanya sekaligus.

Anggaplah rutinitas mengoles sunscreen setiap pagi sebagai investasi aset yang tak ternilai harganya. Kulit yang sehat, kencang, dan awet muda di usia matang nanti, adalah buah manis dari kedisiplinanmu melindungi diri hari ini!